Arkomindonesia

Pendamping 

YAI (Yayasan Arkom Indonesia) dalam melakukan kerja pasca bencana di Sulawesi Tengah 2018 menempatkan kerja pendampingan masyarakat sebagai pilar utama kegiatannya. Sebelum kegiatan dimulai para calon pendamping mengikuti workshop pendampingan masyarakat. Dalam masa tanggap darurat YAI mengunakan moto Pilah Pilih Pulih (3P). Para calon pendamping bekerja sama dengan masyarakat Penyintas mengumpulkan material bekas bencana untuk dipisah dengan material bekas lainnya (dipilah). Selanjutnya material bekas bencana dipilih untuk digunakan  sebagai material membangun rumah sementara. Bersamaan dengan dua kegiatan di atas semangat masyarakat penyintas mulai Pulih kembali semangat hidupnya.  

Para pendamping sejak awal bekerja selalu mengedepankan partisispasi Penyintas dalam mengambil keputusan. Posisi pendamping pada saat tertentu berada di depan saat tertentu ada di sampingnya dan saat tertentu ada di belakang Penyintas, semua posisi disesuaikan dengan kondisinya dan permasalahan yang ada. Pola kerjasama ini dikenal dengan sebutan people driven.  

Kelompok sasaran yang dampingi oleh YAI adalah kelompok yang paling rentan atau dalam hal ini para penyintas yang berada wilayah Mamboro di Palu, Kampung Wani Dua dan Tompe di kabupaten Donggala.  Para penyintas tersebut merupakan kelompok marjinal yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan, penjemur ikan maupun profesi yang berhubungan dengan laut lainnya. 

Kekuatan pendamping terletak pada cara meningkatkan kesadaran kritis Penyintas melalui berbagai sarana yang tersedia. Dalam konteks rehab-rekon pasca bencana di Sulawesi Tengah, YAI menggunakan rumah sebagai media komunikasi (pendampingan) dengan Penyintas. Bersama pendamping dan Peyintas kesadaran kritis yang telah dimiliki oleh beberapa orang ditularkan  ke Penyintas yang lebih luas sehingga banyak anggota masyarakat bersemangat untuk melakukan perubahan.  

Kita harus mengakui bahwa sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup individualis melainkan butuh berkerjasama dengan berbagai pihak dalam melakukan sesuatu. Bencana alam yang menimpa masyarakat Sulawesi Selatan (Mamboro dan yang lain), menjadi refleksi bahwa dalam proses bangkit harus bersama sama sehingga terbangun kerekatan sosial yang lebih kuat, ataupun sebaliknya.  

Disinilah Pendamping dibutuhkan untuk membersamai masayarakat dalam berefleksi. Di sini pula Pendamping duduk setara dengan Penyintas berbagi informasi baru, berbagi pengalaman, berbagi semangat, dll. Karena itu Pendamping dituntut memiliki intuisi dalam melihat problematika masyarakat dampingannya. Pendamping mengambil peran penting dalam hal memfasilitasi dan memediasi permasalahan yang ada di masyarakat.   

Kerendahan hati adalah tuntutan yang lain bagi Pendamping sehingga  melihat masyarakat bukan sebagai objek namun sebagai subjek. Masyarakatlah  pelaku utama dalam melakukan perubahan di lingkungannya. Pendamping dengan dengan segala instrumen yang dimiliki mesti membantu mewujudkan hal itu. Instrumen yang dimaksud seperti jaringan kerja ke berbagai media online/offline, ketrampilan membangun berkolaborasi, dll.  Melalui berbagai instrumen di atas diharapkan dapat memacu motivasi warga untuk berdaya, saling membantu antar sesama, dan meningkatkan kesadaran kritis mereka.  

Pendamping sangat penting dalam kerja kemanusiaan terkadang Pendamping juga menjadi sosok contoh dalam berperilaku di masyarakat. Posisi mereka ibarat ruang kosong antar dua anak tangga. “Tak terlihat” namun karena ruang kosong itu orang bisa melangkah lebih tinggi atau dalam hal ini menjadi lebih baik. (Fadli).  

Leave a Comment

Your email address will not be published.

EnglishIndonesian